19/01/2021

LAJU BERITA

Kumpulan berita viral terkini, berita viral terbaru, berita viral, berita terbaru di indonesia, berita seputar indonesia, berita terbaru

Dibalik Hebohnya Virus Corona Terdapat Ancaman Besar PHK

3 min read
Virus Corona Terdapat Ancaman Besar PHK!

Covid-19 yang telah menggemparkan seluruh dunia ini diyakinin memberikan pengaruh besar terhadap perekonomian dunia

Laju Berita – Wabah virus corona atau dengan nama lain Covid-19 yang telah menggemparkan seluruh dunia ini diyakinin memberikan pengaruh besar terhadap perekonomian dunia. Indonesia termasuk salah satu negara yang perekonominya rentan terpapar virus mematikan ini.

Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani Indrawati bahkan tidak menampik hal tersebut. Bahkan menurut Beliau kondisi Perekonomian saat ini jauh lebih berbahaya dibandingkan krisis Ekonomi pada Tahun 2008 silam.

Sri Mulyani juga menerangkan dampak virus yang dikenal dengan nama lain Covid-19 ini terhadap perekonomi jauh lebih rumit ketimbang kondisi krisis 2008 sekalipun. Sebab virus corona dapat membuat ketakutan di masyarakat dan sangat mempengaruhi kegiatan keseharian masyarakat. Efek tersebut berujung pada sektor riil yang terhantam secara langsung.

“Sebelum kita menjelaskan ancaman atau risiko terhadap mereka, hal yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah memberikan ketenangan kepada mereka. Dan hal ini menyangkut diri langsung pada ancaman, kesehatan, keselamatan bahkan ancaman kemungkinan meninggal dunia. Hal itu yang jauh lebih langsung,” ujar Menteri Keuangan yang ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta pada Kamis (5/3/2020).

BACA JUGA : Fitur Baru Whatsapp Dark Mode Sudah Bisa Di Android dan IOS

Dengan adanya resiko yang mempengaruhi secara langsung tersebut, maka oleh itu pun muncul potensi terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang tentunya akan menghantui perusahaan di industri yang bergantung pada mobilitas masyarakat. Beliau mencontohkan salah satu perusahaan maskapai dan di sektor pariwisata. Termasuk juga industri manufaktur yang sebagian pasokan bahan bakunya terganggu dikarenakan berhentinya kegiatan di China.

Jadi setelah sektor-sektor tersebut mulai terhantam, pengaruhnya juga tentu bermuara kepada sektor keuangan. Hal tersebut dikarenakan pembayaran kredit dunia usaha dari perbankan dapat mandek atau sseret dan tentunya juga membuat rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) akan meningkat.

Lalu apa yang nantinya akan dilakukan pemerintah?
Menteri Keuangan ini menerangkan, bahwa yang terjadi saat ini sangatlah berbeda dibandingkan krisis 2008. Krisis Ekonomi yang terjadi pada Tahun 2008 terjadi berawal dari sektor keuangan.

Krisis pada saat itu diawali pada Tahun 2007, saat persediaan rumah di AS untuk masyarakat menengah ke bawah melonjak naik. Namun pada saat itu masih banyak dari nasabah perumahan kelas bawah yang tidak mampu membayar utang-utangnya.

Efeknya berbagai institusi keuangan di Amerika Serikat banyak yang hancur. Yang tentunya berpengaruh ke banyak negara. Salah satunya Indonesia yang terkena imbasnya. Rupiah saat itu jatuh ke level Rp 8.000 bahkan hingga ke level Rp 12.650. Bahkan depresiasi rupiah pun mencapai 34,86%.

BACA JUGA : Fitur Baru Whatsapp Dark Mode Sudah Bisa Di Android dan IOS

Sementara pada serangan wabah Corona ini akan langsung menghantam sektor riil. Masyarakat tidak berani melakukan kegiatan apapun, sehingga secara langsung mempengaruhi sektor riil. Contohnya perusahaan manufaktur yang berujung pada terganggunya investasi.

Oleh sebab itu, Sri Mulyani yang juga selaku bendahara Negara sudah mengaku siap memberikan stimulus fiskal yang tentunya untuk menyelamatkan sektor riil perekonomian. Seperti yang terjadi pada krisis 2008, stimulus fiskalnya bisa mencapai sekitar Rp 70 triliun.

“Saya sangat terbuka dalam hal ini. Makanya tadi kan respons utama fokusnya langsung yang berhubungan dengan tourism. Seperti airlines, hotel, restoran” katanya.

Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan sektor manufaktur pada kuartal III 2019 sebesar 4,68% atau melambat sebesar 0,34 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya, 5,02%. Sementara, pertumbuhan ekonomi pada 2019 adalah 5,02% dan 5,17% pada 2018.

Menurut BPS, tantangan utama pemerintah adalah agar meningkatkan investasi yang bisa menyerap tenaga kerja yang nantinya terus bertambah. Sedangkan virus Covid-19 tak hanya menghambat laju investasi akan tetapi juga memukul pekerja di pasar dan industri yang telah ada.

“Tekanan ekonomi kita sudah besar sebelum adanya virus corona, hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi 5 tahun kemarin sudah stagnan. Sebelum corona juga ada resiko penurunan manufaktur dan pengurangan tenaga kerja,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.